Langsung ke konten utama

Nama dan Logo

Logo Komunitas Wedangjae

Komunitas. ‘Wedangjae’ merupakan kumpulan personal-personal yang memiliki karakteristik sebuah komunitas, yaitu keragaman dan juga kesamaan. Keragaman pemikiran dan disiplin ilmu para pendukungnya dan kesamaan idealisme dalam menjadikan hati atau fitrah sebagai cara pandang didesain untuk menghasilkan sebuah soliditas dan solidaritas komunitas yang akrab.

Wedangjae.
Singkatan dari Wacana dan Analisis Jurnalisme Empatik. Sebuah kumpulan karya jurnalisme yang berangkat dari rasa empatik atau kepedulian mendalam terhadap kondisi lingkungan dan sesama. Ia juga merupakan simbol dari minuman rakyat jelata yang memiliki sifat alami menghangatkan, sehingga wacana dan analisis wedangjae adalah seputar isu yang sedang hangat atau selalu hangat atau menciptakan kehangatan baru dan merupakan ekspresi suara hati rakyat.

Hijau.
Warna hijau pada ‘wedang’ adalah representasi dari latar belakang komunitas yaitu kealamian (fitrah) dan universalitas dari muatan yang terkandung dalam tulisan-tulisannya.

Orange.
Warna orange pada ‘jae’ yang mewakili Jurnalisme Empatik adalah warna ciri khas kreativitas atas lahirnya ide-ide baru seperti halnya warna sinar matahari yang memberi inspirasi bagi tumbuhan untuk terus tumbuh dan bermanfaat bagi sekelilingnya, sekaligus merupakan warna ekspresi dari hati yang mencerahkan.

Hitam.
Warna hitam pada ‘komunitas’ dan kepanjangan ‘wedangjae’ adalah simbol dari soliditas dan ketegasan komunitas untuk terus melahirkan karya, sekaligus simbol bahwa komunitas ini berada dekat dengan ketetapan-ketetapan lingkungan realita.

Cangkir cokelat dan timbul.
Merupakan icon komunitas yang mewakili warna proletar atau kerakyatan, ia mudah dijumpai dan dinikmati pemikiran-pemikirannya sekaligus memberi kesegaran baru lewat kehangatan yang terkandung dari karya-karya jurnalismenya. Ia menjadi simbol dari aktivitas pagi hari, yaitu menelan banyak wacana dan pengetahuan sebelum melakukan aktivitas-aktivitas rutin.

Huruf G.
Pada kata ‘wedang’, ia menjadi huruf mewakili kemisteriusan yang melahirkan semangat untuk terus melakukan riset dan inovasi-inovasi kreatif.

Komentar

Populer

Mengenal Benturan Peradaban : Sebuah Pengantar

Apa perbedaan ideologi dengan peradaban ? Bagaimana pengaruhnya terhadap tatanan global dunia? Dimanakah posisi ideologi dan peradaban dalam gerakan mahasiswa ? Adalah pertanyaan fundamental yang layak dipahami oleh seorang aktivis gerakan mahasiswa muslim. Yang jelas, setelah blok komunis runtuh pada kurun waktu 1980-an, maka perbincangan tentang ideologis dianggap sudah selesai. Para pemikir kemudian kemudian menemukan cara pandang baru yang lebih komprehensif yaitu peradaban. Dalam tataran lokal masional, friksi diantara tiga ideologi besar --nasionalis, agama (Islam), dan komunis—tidak lagi menarik dibicarakan dibanding dengan pembicaraan seputar peradaban barat, Islam, dan konfusian. Tulisan berikut ini bukanlah sebuah analisis orisinil penyusun, tetapi kumpulan tulisan dari beberapa penulis dan pengamat peradaban yang dimuat dimedia massa, baik berupa artikel, resensi, maupun kutipan-kutipan dari esai ilmiah populer. Dengan harapan, dapat digunakan sebagai bahan diskusi yang

Milestone Wedangjae Online

Assalamu'alaikum Wr.Wb, Ini adalah sebuah milestone atau sebuah tonggak baru atau Nol Kilometer bagi Komunitas Wedangjae online. Setelah didirikan tahun 2002 dan memiliki web untuk pertama kali tahun 2003 di Geocities (free) menggunakan Dreamweaver, Flash, dan Frontpage, hingga mengalami pasang surut dengan web berbasis CMS berdomain dotcom (2006-2010) dan dotnet (2010-2017), kini Wedangjae hadir kembali dalam bentuk yang lebih praktis, menggunakan blog engine sebagai 'angkringan'-nya. Sebagian tulisan adalah arsip digital para pegiatnya atau kegiatan yang pernah dilakukan Wedangjae, sehingga tanggal posting sebelum Maret 2018. Sebagian yang lain adalah karya terbaru di awal-awal tahun 2018. Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum Wr.Wb.

Bolehkah Masjid atau Tanah Wakaf Dialihkan ( Ruilslag) ?

Pada tahun 2014, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerima banyak pertanyaan baik perorangan maupun organisasi tentang status tanah yang di atasnya ada bangunan masjid. Banyak tanah yang di atasnya ada bangunan masjid yang dialihfungsikan oleh perorangan atau kelompok yang memegang dokumen formal, sehingga menimbulkan sengketa. Pada tahun 2014 pula, MUI kemudian mengeluarkan fatwa soal status tanah tersebut, dengan fatwa nomor 54 tahun 2014 tentang “Status Tanah yang Di atasnya Ada Bangunan Masjid”.  Fatwa ini  kemudian ditetapkan pada 30 Desember 2014 atau 07 Rabiul Awwal 1436 dan ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Prof.Dr. H .Hasanuddin AF, MA  dan sekretaris Dr HM. Asrorun Ni’am Sholeh, MA. Bunyi fatwa itu sebagai berikut: Pertama : Ketentuan Umum : Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan: Masjid ialah masjid jami’ yakni sebuah bangunan khusus di atas sebidang tanah yang diwakafkan untuk tempat shalat kaum muslimin.   Tanah masjid ialah tanah yang di ata