Langsung ke konten utama

Tiga Langkah Memajukan Wakaf

Secara singkat Penulis ingin menjabarkan langkah atau tahap bagaimana agar wakaf BISA menjadi bagian penting dari fondasi ekonomi ummat. Tahap ini dibagi menjadi tiga K dimulai dari Kampanye lalu Kreasi dan diakhiri Konversi.

Pertama, Kampanye.
Selama ini mayoritas ummat belum memahami konsep wakaf produktif. Jangankan tentang wakaf sebagai fondasi ekonomi, wakaf itu sendiri sebagai isu belumlah menjadi agenda publik. Penulis mengusulkan agar dilakukan langkah masif, terstruktur dan strategis untuk mengkampanyekan konsep pembangunan wakaf.

Wakaf harus menjadi arus utama (mainstream) perbincangan publik bahwa ia bagian dari solusi pembangunan ekonomi. Kampanye ini harus dilakukan ke semua segmen dan elemen masyarakat melalui program kontinyu off air dan on air alias BTL (Below The Line) dan ATL(Above The Line ) melibatkan seluruh pemangku kepentingan (all stake holders) termasuk generasi millenials yang gandrung gadget dan media sosial. Setiap konten harus menarik sesuai segmen yang dibidik dalam kampanye.

Kedua, Kreasi.
Setelah wakaf menjadi perbincangan publik dan ummat mulai memahami bahwa ada lebih dari 4 milyar M2 potensi tanah atau aset wakaf, maka selanjutnya harus diajak berbagai pihak terkait untuk membuat (kreasi) instrumen pelibatan wakaf.

Misalnya bahwa (Menurut  riset Islamic Development Bank) ada potensi wakaf tunai atau wakaf uang (cash wakaf) sejumlah Rp 60 trilyun pertahun jika sebagian ummat berwakaf tunai. Maka kalangan perbankan dan yang terkait hendaknya memikirkan membuat produk atau jasa perbankan yang membuat ummat mudah untuk melakukan wakaf tunai ini.


Intinya dengan otoritas terkait diciptakan berbagai pilihan mudah dan menarik agar yang sudah faham dan terpapar tahap kampanye wakaf mulai MENCOBA atau “MENCICIPI ” produk wakaf.

Ketiga, Konversi.
Ini adalah tahap yang tak terpenting. Bahwa ummat yang sudah faham dan mencicipi produk atau jasa terkait wakaf ini diajak lebih serius terlibat mengganti atau beralih (konversi) ke semua yang terkait wakaf produktif.

Bagi yang memiliki usaha diajak bagaimana agar sebagian saham atau kepemilikan usahnya diwakafkan. Bagi yang sudah memiliki asuransi agar sebagian nilai pertanggungannya diwakafkan jika kelak wafat. Bagi yang memiliki banyak aset tanah ditawarkan kerjasama untuk sebagian diwakafkan dengan nazir yang profesional. Bagi yang memiliki perkebunan atau tambang mungkin ditawarkan produk konversi sebagian ke wakaf produktif.

Koperasi yang dimiliki Seruji juga akan menarik jika dikonversi sebagian sebagai saham Wakaf. Wakif nya bisa individu atau institusi yang memang berniat memajukan perwakafan. Sedangkan mauquf alaih atau beneficiaries nya mereka para jurnalis ummat yang selama ini berdakwah online atau yang off line.

Penulis : Imam Nur Azis
Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) 2017-2020
Pegiat Komunitas Wedangjae

Komentar

Populer

Milestone Wedangjae Online

Assalamu'alaikum Wr.Wb,

Ini adalah sebuah milestone atau sebuah tonggak baru atau Nol Kilometer bagi Komunitas Wedangjae online. Setelah didirikan tahun 2002 dan memiliki web untuk pertama kali tahun 2003 di Geocities (free) menggunakan Dreamweaver, Flash, dan Frontpage, hingga mengalami pasang surut dengan web berbasis CMS berdomain dotcom (2006-2010) dan dotnet (2010-2017), kini Wedangjae hadir kembali dalam bentuk yang lebih praktis, menggunakan blog engine sebagai 'angkringan'-nya.

Sebagian tulisan adalah arsip digital para pegiatnya atau kegiatan yang pernah dilakukan Wedangjae, sehingga tanggal posting sebelum Maret 2018. Sebagian yang lain adalah karya terbaru di awal-awal tahun 2018. Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr.Wb.


Tren Pendidikan Era Milenial

Zaman berubah. Era milenial namanya. Generasinya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi dan media teknologi digital. Gawai di tangan. Pengetahuan mudah di dapat, ruang obrolan bertambah luas, tanpa sekat dan tanpa batas. Inilah kompetitor guru saat ini. Kompetitor yang sangat serius. Selalu meng-update diri, dengan sangat pesat. Mari kita proyeksikan pendidikan di masa depan, berdasarkan fenomena kekinian. Karena generasi yang dididik hari ini akan hidup di masa depan.Sesuatu yang relevan di hari ini, mungkin akan usang di masa depan. Bisa jadi, bila hari ini sekolah keliru ajar. Lahirlah generasi pengekor, bukan ‘pemimpin barisan’.
Berdasarkan data Indonesia Digital Landscape 2018, yang dirilis pada bulan Januari 2018, dari total Populasi penduduk yang 265 juta jiwa, pemilik Unique Mobile User adalah 178 juta jiwa (67 %), Internet Users 132,7 Juta Jiwa (50 %) dan Active Social Media Users 130 juta jiwa (49 %). Dan dari pengguna internet itu, 91 %adalah pen…

Melejitkan Produk Gula Tebu

Bagi masyarakat sekitar desa bringinsari, keberadaan gula tebu bukan barang asing lagi.
Merupakan hasil perasan tebu lokal, kemudian dimasak 4 jam dan dicetak menggunakan batok kelapa. Bentuk batok dan berwarna coklat mirip dengan gula jawa atau gula nira. Bagi orang yang tidak biasa, akan terkecoh dengan penampilannya dan mengira gula jawa.

Produksi gula tebu ini masih tradisional dan alami. Salah satu ciri kealamiannya yaitu dari rasanya.  Kalau rasanya yang muncuk manis, manis, manis dan tidak ada pahit getirnya kemungkinan masih alami.  Dengan rasa yang seperti ini dimungkinkan prosesnya alami dan tidak ada campuran sama sekali dengan bahan kimia atau lainnya.

Bagi penduduk desa bringinsari, produksi gula tebu hanya sebagai sampingan.  Paling hanya menghasilkan pendapatan Rp 100.000/bulan.

Dengan program comunity development, produk ini sebenarnya bisa lebih dikembangkan potensinya.  Ada beberapa tahap pengembangan produk ini agar bisa masuk pasar premium. Pertama, para produsen …