Langsung ke konten utama

Analisis Kritis Tentang Bias Gender dalam Cerpen “Perawan di Garis Depan” Karya Nugroho Noto Susanto Berbasis Teori Wacana



ABSTRAK

Cerita pendek berjudul “Perawan di Garis Depan” berisi tentang ketertindasan perempuan di lingkup pejuang laki-laki yang yang sebagian kecil tidak suci perjuangannya. Dipandang perlu melakukan analisis kritis tentang bias gender dalam cerpen tersebut berdasarkan teori wacana. Masalah yang diteliti dalam analisis kritis ini (1) Bagaimanakah hasil analisis kritis tentang bias gender dalam cerpen  ‘Perawan di Garis Depan’ berbasis teori wacana?; (2) Apakah manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan analisis kritis tentang bias gender dalam cerpen yang berjudul “Perawan di Garis Depan” berbasis teori wacana?

Berdasarkan analisis kritis diperoleh hasil berikut. (1) Bentuk bias gender tentang kekerasan (violence) tidak muncul dari judul cerpen, tapi terungkap secara jelas melalui penelusuran topik dalam tiap paragraf dan wacana secara keseluruhan. (2) Analisis kritis tentang bias gender dalam cerpen bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih peka terhadap perilaku yang mengarah pada penghilangan kemerdekaan seseorang, dan bermanfaat sebagai  bahan pengingat cerpenis bahwa dalam berkarya sebaiknya tetap memberikan cerita yang mendidik para pembacanya melalui ideologi yang disajikannya.

Kata kunci:
analisis kritis, bias gender, cerpen, teori wacana


Penulis : Dr. Panca Dewi Purwati, M. Pd.
Pegiat Komunitas Wedangjae

Penelitian selengkapnya dapat didownload di sini.

Komentar

Populer

Milestone Wedangjae Online

Assalamu'alaikum Wr.Wb,

Ini adalah sebuah milestone atau sebuah tonggak baru atau Nol Kilometer bagi Komunitas Wedangjae online. Setelah didirikan tahun 2002 dan memiliki web untuk pertama kali tahun 2003 di Geocities (free) menggunakan Dreamweaver, Flash, dan Frontpage, hingga mengalami pasang surut dengan web berbasis CMS berdomain dotcom (2006-2010) dan dotnet (2010-2017), kini Wedangjae hadir kembali dalam bentuk yang lebih praktis, menggunakan blog engine sebagai 'angkringan'-nya.

Sebagian tulisan adalah arsip digital para pegiatnya atau kegiatan yang pernah dilakukan Wedangjae, sehingga tanggal posting sebelum Maret 2018. Sebagian yang lain adalah karya terbaru di awal-awal tahun 2018. Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr.Wb.


Tren Pendidikan Era Milenial

Zaman berubah. Era milenial namanya. Generasinya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi dan media teknologi digital. Gawai di tangan. Pengetahuan mudah di dapat, ruang obrolan bertambah luas, tanpa sekat dan tanpa batas. Inilah kompetitor guru saat ini. Kompetitor yang sangat serius. Selalu meng-update diri, dengan sangat pesat. Mari kita proyeksikan pendidikan di masa depan, berdasarkan fenomena kekinian. Karena generasi yang dididik hari ini akan hidup di masa depan.Sesuatu yang relevan di hari ini, mungkin akan usang di masa depan. Bisa jadi, bila hari ini sekolah keliru ajar. Lahirlah generasi pengekor, bukan ‘pemimpin barisan’.
Berdasarkan data Indonesia Digital Landscape 2018, yang dirilis pada bulan Januari 2018, dari total Populasi penduduk yang 265 juta jiwa, pemilik Unique Mobile User adalah 178 juta jiwa (67 %), Internet Users 132,7 Juta Jiwa (50 %) dan Active Social Media Users 130 juta jiwa (49 %). Dan dari pengguna internet itu, 91 %adalah pen…

Melejitkan Produk Gula Tebu

Bagi masyarakat sekitar desa bringinsari, keberadaan gula tebu bukan barang asing lagi.
Merupakan hasil perasan tebu lokal, kemudian dimasak 4 jam dan dicetak menggunakan batok kelapa. Bentuk batok dan berwarna coklat mirip dengan gula jawa atau gula nira. Bagi orang yang tidak biasa, akan terkecoh dengan penampilannya dan mengira gula jawa.

Produksi gula tebu ini masih tradisional dan alami. Salah satu ciri kealamiannya yaitu dari rasanya.  Kalau rasanya yang muncuk manis, manis, manis dan tidak ada pahit getirnya kemungkinan masih alami.  Dengan rasa yang seperti ini dimungkinkan prosesnya alami dan tidak ada campuran sama sekali dengan bahan kimia atau lainnya.

Bagi penduduk desa bringinsari, produksi gula tebu hanya sebagai sampingan.  Paling hanya menghasilkan pendapatan Rp 100.000/bulan.

Dengan program comunity development, produk ini sebenarnya bisa lebih dikembangkan potensinya.  Ada beberapa tahap pengembangan produk ini agar bisa masuk pasar premium. Pertama, para produsen …