Langsung ke konten utama

Analisis Kritis Tentang Bias Gender dalam Cerpen “Perawan di Garis Depan” Karya Nugroho Noto Susanto Berbasis Teori Wacana



ABSTRAK

Cerita pendek berjudul “Perawan di Garis Depan” berisi tentang ketertindasan perempuan di lingkup pejuang laki-laki yang yang sebagian kecil tidak suci perjuangannya. Dipandang perlu melakukan analisis kritis tentang bias gender dalam cerpen tersebut berdasarkan teori wacana. Masalah yang diteliti dalam analisis kritis ini (1) Bagaimanakah hasil analisis kritis tentang bias gender dalam cerpen  ‘Perawan di Garis Depan’ berbasis teori wacana?; (2) Apakah manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan analisis kritis tentang bias gender dalam cerpen yang berjudul “Perawan di Garis Depan” berbasis teori wacana?

Berdasarkan analisis kritis diperoleh hasil berikut. (1) Bentuk bias gender tentang kekerasan (violence) tidak muncul dari judul cerpen, tapi terungkap secara jelas melalui penelusuran topik dalam tiap paragraf dan wacana secara keseluruhan. (2) Analisis kritis tentang bias gender dalam cerpen bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih peka terhadap perilaku yang mengarah pada penghilangan kemerdekaan seseorang, dan bermanfaat sebagai  bahan pengingat cerpenis bahwa dalam berkarya sebaiknya tetap memberikan cerita yang mendidik para pembacanya melalui ideologi yang disajikannya.

Kata kunci:
analisis kritis, bias gender, cerpen, teori wacana


Penulis : Dr. Panca Dewi Purwati, M. Pd.
Pegiat Komunitas Wedangjae

Penelitian selengkapnya dapat didownload di sini.

Komentar

Populer

Mengenal Benturan Peradaban : Sebuah Pengantar

Apa perbedaan ideologi dengan peradaban ? Bagaimana pengaruhnya terhadap tatanan global dunia? Dimanakah posisi ideologi dan peradaban dalam gerakan mahasiswa ? Adalah pertanyaan fundamental yang layak dipahami oleh seorang aktivis gerakan mahasiswa muslim. Yang jelas, setelah blok komunis runtuh pada kurun waktu 1980-an, maka perbincangan tentang ideologis dianggap sudah selesai. Para pemikir kemudian kemudian menemukan cara pandang baru yang lebih komprehensif yaitu peradaban. Dalam tataran lokal masional, friksi diantara tiga ideologi besar --nasionalis, agama (Islam), dan komunis—tidak lagi menarik dibicarakan dibanding dengan pembicaraan seputar peradaban barat, Islam, dan konfusian. Tulisan berikut ini bukanlah sebuah analisis orisinil penyusun, tetapi kumpulan tulisan dari beberapa penulis dan pengamat peradaban yang dimuat dimedia massa, baik berupa artikel, resensi, maupun kutipan-kutipan dari esai ilmiah populer. Dengan harapan, dapat digunakan sebagai bahan diskusi yang

Milestone Wedangjae Online

Assalamu'alaikum Wr.Wb, Ini adalah sebuah milestone atau sebuah tonggak baru atau Nol Kilometer bagi Komunitas Wedangjae online. Setelah didirikan tahun 2002 dan memiliki web untuk pertama kali tahun 2003 di Geocities (free) menggunakan Dreamweaver, Flash, dan Frontpage, hingga mengalami pasang surut dengan web berbasis CMS berdomain dotcom (2006-2010) dan dotnet (2010-2017), kini Wedangjae hadir kembali dalam bentuk yang lebih praktis, menggunakan blog engine sebagai 'angkringan'-nya. Sebagian tulisan adalah arsip digital para pegiatnya atau kegiatan yang pernah dilakukan Wedangjae, sehingga tanggal posting sebelum Maret 2018. Sebagian yang lain adalah karya terbaru di awal-awal tahun 2018. Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum Wr.Wb.

Bolehkah Masjid atau Tanah Wakaf Dialihkan ( Ruilslag) ?

Pada tahun 2014, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerima banyak pertanyaan baik perorangan maupun organisasi tentang status tanah yang di atasnya ada bangunan masjid. Banyak tanah yang di atasnya ada bangunan masjid yang dialihfungsikan oleh perorangan atau kelompok yang memegang dokumen formal, sehingga menimbulkan sengketa. Pada tahun 2014 pula, MUI kemudian mengeluarkan fatwa soal status tanah tersebut, dengan fatwa nomor 54 tahun 2014 tentang “Status Tanah yang Di atasnya Ada Bangunan Masjid”.  Fatwa ini  kemudian ditetapkan pada 30 Desember 2014 atau 07 Rabiul Awwal 1436 dan ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Prof.Dr. H .Hasanuddin AF, MA  dan sekretaris Dr HM. Asrorun Ni’am Sholeh, MA. Bunyi fatwa itu sebagai berikut: Pertama : Ketentuan Umum : Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan: Masjid ialah masjid jami’ yakni sebuah bangunan khusus di atas sebidang tanah yang diwakafkan untuk tempat shalat kaum muslimin.   Tanah masjid ialah tanah yang di ata